Si Penjual Kacang dan sebelum tidur..
uci suicide – Entah apa yang ada dibenakku ketika itu. Meskipun jam sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari, selepas kerja saya enggan untuk langsung pulang melainkan masih berputar-putar sejenak meninkmati dinginya cuaca malam. Disepanjang jalan saya tidak menyaksikan kebisingan seperti malam-malam sebelumnya, Biasanya, malam Minggu begini sekelompok anak muda terlihat bergerombol bersama geng motornya, tetapi malam ini menjadi terasa lain. Yah mungkin, cuaca agak dingin menjadikan mereka enggan keluar rumah.. Hujan lebat memang mengguyur Kota Gorontalo, tetapi sekitar 3 jam lalu berhenti. Hanya bekas-bekas air dipinggir jalan masih terlihat., membahasi tanah yang kering. Ketika mengintari lapangan taruna remaja (alun-alun) suasana sedikit agak gelap. Lokasi itu memang tidak dilengkapi lampu penerangan yang memadai. Terlihat sisa-sisa aktivitas malam, hanya saja mata saya asyik menyaksikan penjual kacang rebus yang mangkal dibawah tiang listrik. Sesekali wajahnya ditengadahkan ketas langit, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Hmm.. mungkin si bapak khawatir jangan-jangan hujan akan turun lagi.” gumam saya dalam hati melihat gelagat dari penjual itu.. Pak tua itu mengenakan topi lusuh, lehernya dililit handuk kecil sedangkan tubuhnya hanya dilapisi kaos tipis. Asap halus mengepul terlihat di atas kacang rebus yang belum laku terjual”. .. Perlahan saya menghampiri seraya menyapa ramah pura-pura menanyakan berapa harga kacang rebus itu . “Yah mari pak, stengah liter cuma 5ribu” ujar sipenjual menyapa saya. Meskipun gak niat makan kacang, uang 10 ribuan saya sodorkan untuk membantu si bapak sekadar melariskan dagangannya. Huff… kasian juga yah si bapak.. dagang kacang tengah malam, keliling kesana kemari hanya mengejar uang sekian puluh ribu itupun hasilnya tidak pasti seperti malam ini…
Setelah itu sayapun langsung pulang kerumah, dinginya angin malam seolah menusuk tulang dan tidak tertahankan lagi. Kejadian malam itu entah kenapa menjadi bahan renungan sebelum tidur.. Banyak hal yang saya dapatkan paling tidak memahami betapa sulitnya berjuang untuk bertahan hidup, siapapun dia pasti pernah merasakan hanya caranya saja yang berbeda.. Met Bobo ajah,,
Rasa tidak puas manusia sering berlindung di balik alasan kata ”untuk bertahan hidup” hingga meninggalkan perintahnya serta menghalalkan segala cara,,padahal nikmat yang telah diberikan begitu banyak…….sayang sering pura2 lupa…