Beginilah Contoh Pemimpin..

Ketika membaca kisah ini, pada ta’lim dihadapan jamaah Masjid Ba’dah sholat Magribh, tanpa saya sadari kalau sempat terisak membayangkannya. Kisah ini sungguh luar biasa yang termaktub pada kitab Himpunan Fadhila Amal yang disusun oleh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi Rah.a

Abu Bakar dan Gajinya dari Baitul-Mal

Sebelum menjadi khalifah, Abu Bakar r.a adalah seorang saudagar kain. Usai dilantik sebagai khalifah, esoknya ia pergi berjualan ke pasar seperti biasa. Dalam perjalanan ia bertemu dengan sahabat Umar Bin Khatab r.a. Umar bertanya kemana ia akan pergi. Abu Bakar menjawab saya akan pergi ke pasar. Umar r.a. menyahut, “kalau engkau sibuk berjualan di pasar, siarapa yang akan menjalankan tugas kekhalifaan?”. Abu Bakar r.a. menyahut lagi, “lalu bagaimana saya harus membiayai keluarga saya?” Umar r.a. berkata, “Marilah kita menjumpai Abu Ubaidah (penjaga amanah baitul mal) supaya ia menetepkan gaji untukmu.” Pada pertemuan itu Abu Ubaidah .r.a menetepkan gaji bagi Abu Bakar r.a. yang jumlahnya sama dengan yang biasa ia berikan kepada seorang muhajirin, tidak kurang dan tidak lebih dari itu.

Pada suatu hari istrinya berkata kepada Abu Bakar r.a.“Saya ingin membeli sedikit manisan.” Abu Bakar r.a. menjawab, “saya tidak memiliki cukup uang untuk membelinya.” Istrinya berkata, ” kalau engkau mengizinkan, saya akan mencoba untuk menghemat uang perbelanjaan kita sehari-hari sehingga saya bisa membeli masakan itu.” Lantas Abu Bakar r.a. menyetujuinya.

Setiap hari, istri Abu Bakar r.a. mengumpulkan sedikit demi sedikit uang perbelanjaan mereka. Beberapa hari berselang, uang itu terkumpul untuk membeli masakan yang di inginkan oleh istrinya. Setelah uang terkumpul isterinya menyerahkan uang itu kepada suaminya agar dibelikan bahan-bahan untuk masakan itu.
Abu Bakar r.a. berkata, “Berdasarkan pengalaman ini ternyata tunjangan yang saya peroleh dari Baitul Mal melebihi keperluan kita.” Maka Abu Bakar r.a. mengembalikan uang yang sudah dikumpulkan isterinya itu ke Baitul Mal dan sejak hari itu, ia minta agar uang telah dikurangi dengan sejumlah uang yang telah dihemat oleh isterinya.

Gaji untuk Umar r.a. dari Baitul-Mal

Setelah Abu Bakar r.a. meninggal, posisinya sebagai khalifah digantikan oleh Umar Bin Khattab r.a. Beliau juga adalah seorang saudagar yang menghidupi keluarganya dengan berjualan di pasar. Ketika menjabat sebagai khalifah,Umar r.a. terpaksa harus meninggalkan profesinya itu dan hanya bergantung dari tunjangan di Baitul Mal sekedar untuk bisa mencukupi keperluan keluarga saja. Beberapa lama kemudian, para sahabat terkemuka termasuk Ali Bin Abi Thalib r.a. Usman Bin Affan r.a. Zubair r.a. dan Thalhah r.a. mengusulkan agar uang tunjangan untuk Umar r.a. ditambah lagi karena jumlah tunjangannya terlalu sedikit. Tetapi tidak seorang pun diantara mereka yang berani mengemukakan usul itu secara langsung kepada Umar r.a.

Akhirnya mereka menemui Hafsah .r.ha, anak perempuan Umar r.a. yang juga Ummul Mukminin ( istri Rasulullah SAW). Mereka minta agar ia dapat menyampaikan usul itu kepada khalifah Ummar r.a. tanpa menyebutkan nama-nama mereka.
Ketika Hafsah r.ha mengemukakan usul ini kepada Umar r.a., wajah Umar langsung memerah kerana marah. Lalu dengan tegas Umar r.a. bertanya ” siapakah yang mengajukan usul seperti ini.?? Hafsah r.ha menjawab “Katakanlah pendapatmu terlebih dahulu.” Ummar r.a. menjawab, “seandainya aku tahu orang orang itu niscaya aku tempeleng muka mereka.

Umar r.a. pemimpin yang zuhud

   Pada suatu hari Umar r.a. memberikan khutbah dihadapan para sahabantnya. Ia menggunakan kain yang terdapat 12 tambalan. Salah satu diantaranya ditambal dengan kulit. Ketika terlambat datang ke Masjid untuk menunaikan sholat Fardhu Jumat. Ia berkata kepada para jamaah, “Maafkan saya, aku terlambat karena harus mencuci kain bajuku terlebih dahulu karena aku tidak memiliki baju lainnya untuk dipakai.

Pernah Umar r.a. sedang menikmati makanannya. Khadimnya memberitahukan kepadanya Utbah datang untuk menemuinya dan Umar r.a. mengizinkan ia masuk. Umar r.a. mengajak Utbah untuk makan bersamanya, Utbah pun menerima tawaran itu. Tetapi roti yang dihidangkan adalah roti yang keras dan tebal sehingga ia tidak dapat menelannya. Maka ia pun bertanya.
“Mengapa engkau tidak menggunakan tepung yang baik untuk membuat roti.??” Umar r.a. menjawab, “Apakah semua orang islam dapat memakan roti tepung yang baik??” Utbah menjawab “Tidak semuanya”. Lalu Umar r.a. berkata “Nampaknya engkau menginginkan agar aku menikmati semua jenis kenikmatan yang ada dalam kehidupan di dunia ini.”

Silahkan bandingkan dengan pemimpin kita sekarang..??

wassalam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.